Monday, May 19, 2014

IT JUST HAPPEN ANYWAY



Restoran tempatku makan ini selalu ramai, namun tenang. 
Alunan musiknya memanjakan telinga. Minuman hangat yang kupesan dapat membuka perutku untuk mulai mencerna. Menghangatkan dadaku yang hampir beku karena angin kencang selama aku menunggunya di luar. Kunikmati tarikan napasku, setiap oksigen dan karbondioksida yang kuhembus. Kunikmati semuanya, selagi aku bisa. Sebelum dia memulai ceritanya.

Sebentar lagi dia akan bercerita panjang lebar, aku hanya patut mendengar saja atau sesekali mengangguk sambil minum sedikit. Dia mulai berbicara, sudah sebulan ini dia menceritakan tentang teman kami yang menurutnya mulai gila. Tapi kali ini berbeda, telingaku sudah panas dan mulutku gatal, suaraku sampai serak karena jarang dipakai. Lalu suaraku muncul begitu saja. Tidak keras, namun jelas. Lantang aku mengungkapkan ketidaksetujuanku dengannya. Mendadak dia diam ketika aku mulai berbicara. Aku bilang padanya kalau gila dan jatuh cinta itu berbeda. Terutama kalau hal itu menyangkut impian seseorang.

'Oke, jelaskan padaku. Kenapa?’, tantangnya.

Ah inilah bagian tersulitnya, dijawab panjang lebar pun dia takkan paham apalagi secara singkat, ucapku dalam hati. Kutarik napas panjang, aku harus mencoba kesempatan ini, siapa tahu dia mengerti.

'Jadi bayangkan, bayangkan hal paling indah. Sesuatu yang selalu ada sebelum kamu istirahat di malam hari, kamu benar-benar menginginkannya bahkan sampai terbawa di mimpimu. Bayangkan kalau kamu bertemu belahan jiwamu, cinta pertama atau cinta terakhirmu.. Bayangkan bahwa entah kenapa kamu merasakan ada gelombang-gelombang tak terdefinisikan menuntunmu kesana. Gelombang yang tidak akan dipahami walau dengan penelitian ilmiah. Gelombang yang tiba-tiba muncul, seolah semuanya adalah takdirmu. Seperti kamu memilih jodohmu, memilih pilihan hidupmu. Bahwa dengan memilihnya, cuaca, ekonomi serta omongan orang lain bukan lagi masalah. Tangisan-tangisan malammu akan hilang dalam pelukannya. Tidak ada lagi resah dan penyesalan dikemudian hari. Bahwa dengan memilihnya dan ada bersamanya semua hal terasa tepat. Tidak kurang, tidak lebih.’

Dia mulai menerawang, memvisualisasikan ucapanku. Kuteruskan lagi..

‘Bila kamu dengar namanya disebut, jantungmu akan berdetak lebih cepat. Lalu kamu merasa bahagia. Setiap orang punya gelombangnya masing-masing. Buatku gelombang itu seperti magnet, ia menarik jiwaku ke satu tempat.. Magnet yang selalu menarik diriku untuk bangun dari mimpi dan menjadikannya nyata. Lalu ketika kamu bangun, kamu tahu bahwa hal itu nyata dan kamu meyakininya begitu saja. Yakin seperti agamamu. Seyakin kamu tahu kalau kamu harus pergi ke Mekah, Vatikan, Jerusalem, India, Thailand atau sebutlah dimanapun kamu merasa tenang, bahwa kamu merasa kamu sudah pulang. Kamu tidak lagi perlu bertanya kenapa. Karena kamu sudah yakin, kamu percaya sepenuh hatimu.

Gelombang itu menarikku ke sebuah tempat. Tempat yang kumimpikan setiap hari, penyemangat hidupku. Aku yakin bahwa disana ada sudut-sudut yang siap menerimaku apa adanya. Menyinari senyumku dengan hangat matahari. Memelukku erat dengan suasana gelak tawa khas dari bar dan cafe. Membuatku tenang dengan perhatian lampu jalanan. Lalu aku merasa yakin, bahwa disanalah aku harus berada. Disanalah aku menyadari bahwa aku sebenarnya telah jatuh cinta.

Tempat itu memang masih asing bagiku tapi aku tahu nanti ketika aku tiba disana, aku akan bertemu dengan orang-orang yang memaknakan hidupnya, mencari kebebasan, mencari sudut untuk mengadukan keresahannya. Aku akan membuat orang lain tahu bahwa mimpi bisa menjadi nyata. Mimpi untuk hidup di tempat baru.'

'Memangnya ada yang seperti itu?’ tanyamu,

'Ada. Tempat itu ada buatku.'

'Apa?' tanyamu menantangku

Nada tanyanya mengesalkan, tapi tenanglah. Rahasia besar ini akan kubagi. Aku tarik napas sekali lagi, seakan-akan aku dapat melihat pintu surga. 

Buatku tempat itu bernama... 'London', jawabku.

Kamu terhentak, memundurkan kursimu. Kamu, setengah tertawa melihat mataku berkilat-kilat ketika aku bercerita.
'Hmmft! Kamu lucu,' katanya sambil menutup mulutnya dengan tangan, 'Sampai segitunya kamu bisa suka sama London? Inggris? LONDON?! Itu kan cuma kota, manusia, mobil dan.. yaa kota biasa! Kamu aneh. GILA KAMU! HAHAHA..' lalu kamu tertawa kencang sekali.

Aku menghela napas. Benar kan? Kamu tidak mengerti. Ini bukan sekedar suka.
Hei, aku ini jatuh cinta! Benar-benar jatuh cinta!
Aku gak butuh banyak alasan, gak sebanyak alasan kenapa aku atau orang lain harus terus duduk didepanmu. Aku sudah bosan denganmu. Bosan dengan semua ocehanmu yang harus aku tahu sampai aku mual. Aku ingin pergi darimu, ke suatu tempat yang selalu aku bayangkan.
Aku gak perlu tahu semuanya, aku cuma butuh waktu untuk menjelajahinya, menikmati setiap jengkalnya.
Because I love it just the way it is. Because I want to lose myself in it. In London. In every famous place and forgotten corners. In a fancy hotel or even an old wagon. Aku jatuh cinta. Cinta yang tidak butuh banyak alasan dan bualan.

Aku tahu ini nyata. Senyata padatnya underground tube, seramai pelukan dan ciuman di Trafalgar Square, seaman ketika kamu berdiri di sebelah Royal Guard. Aku tahu bahwa ini berarti kebebasan. Bebas untuk menjadi diriku di tempat yang lain. Bebas merasakan suasana yang ada, seperti sapuan angin diatas double decker yang mengacak-acak rambutku atau berteriak sekencangnya di stadion klub bola favoritku. Bebas tanpamu.

Gelombang magnet itu menarikku ke satu titik di dunia, satu titik dari seluruh antero jagat raya. Sebuah tempat yang memanggilku setiap saat, memilihku untuk mendekat. Magnetku ada di London. Yes, it just happen anyway. Aku percaya bahwa di London, aku akan bebas kembali. Aku akan jatuh cinta lagi. Aku akan hidup lagi.

Tapi dia bilang aku gila. Dia meragukan impianku. 
Dasar keras kepala!




*tulisan ini dibuat untuk #InggrisGratis
No, I'm not crazy.

See you around people, wish me tons of luck! :)

No comments :

Post a Comment